Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan yang semakin menuntut, konsep staycation muncul sebagai oase alternatif bagi mereka yang lelah dengan rutinitas, namun enggan atau tidak mampu melakukan perjalanan jauh. Istilah ini, yang menggabungkan kata stay (tinggal) dan vacation (liburan), menjanjikan pelarian tanpa harus meninggalkan zona nyaman—rumah, kota, atau bahkan kamar tidur sendiri. Namun, di balik narasi yang dibangun oleh media sosial dan industri pariwisata, staycation sering kali lebih merupakan ilusi daripada solusi substantif. Ia menjadi cerminan dari bagaimana kapitalisme mengemas ulang keterbatasan menjadi gaya hidup yang diinginkan.
Romantisasi Keterbatasan: Ketika Staycation Menjadi Pilihan Terpaksa
Pada dasarnya, staycation bukanlah fenomena baru. Sebelum pandemi COVID-19 melanda, istilah ini sudah eksis, meski belum sepopuler sekarang. Namun, pembatasan mobilitas yang diberlakukan selama pandemi memaksa banyak orang untuk mengeksplorasi kembali ruang-ruang yang selama ini diabaikan: rumah, lingkungan sekitar, atau fasilitas lokal. Apa yang awalnya merupakan kebutuhan, kemudian diangkat menjadi tren oleh algoritma media sosial. Influencer dan akun-akun gaya hidup berlomba-lomba menampilkan versi ideal dari staycation: kamar hotel mewah di kota sendiri, brunch di kafe instagrammable, atau spa di rumah dengan peralatan premium.
Namun, di balik estetika tersebut, tersembunyi realitas yang lebih kompleks. Bagi sebagian besar orang, staycation bukanlah pilihan, melainkan keputusan pragmatis yang dipaksakan oleh keterbatasan finansial, waktu, atau tanggung jawab. Mereka yang bekerja di sektor informal, misalnya, mungkin tidak memiliki kemewahan untuk mengambil cuti berbayar. Bagi orang tua tunggal atau pengasuh, meninggalkan rumah selama berhari-hari adalah kemustahilan. Dalam konteks ini, staycation bukanlah liburan, melainkan sekadar jeda—dan sering kali, jeda yang tidak benar-benar melepaskan mereka dari beban sehari-hari.
Industri Pariwisata dan Komodifikasi Kebosanan
Industri pariwisata, yang selalu gesit menangkap peluang, dengan cepat mengubah staycation menjadi komoditas. Hotel-hotel di kota besar menawarkan paket staycation dengan harga yang kadang lebih mahal daripada liburan ke destinasi wisata populer. Konsep ini dijual dengan janji-janji seperti “mengalami liburan tanpa repot,” atau “menikmati kemewahan tanpa harus bepergian jauh.” Namun, apa yang sebenarnya ditawarkan? Sering kali, itu hanyalah pengalaman konsumtif yang dangkal: kolam renang dengan pemandangan kota, makanan yang disajikan dengan presentasi artistik, atau akses ke fasilitas yang sebenarnya bisa dinikmati tanpa harus menginap.
Lebih jauh, komodifikasi ini menciptakan ilusi bahwa staycation adalah solusi untuk kelelahan hidup modern. Padahal, akar masalahnya—yaitu eksploitasi tenaga kerja, ketidakadilan ekonomi, dan kurangnya akses ke ruang publik yang berkualitas—tetap tidak tersentuh. Alih-alih mendorong refleksi kritis tentang bagaimana kita hidup dan bekerja, staycation justru menjadi pelarian sementara yang mengaburkan realitas. Ia menjadi semacam opium baru: memberikan kenyamanan sesaat, namun tidak mengubah apa pun.
Staycation dan Mitos “Me Time” yang Menipu
Salah satu narasi paling kuat yang menyertai staycation adalah gagasan tentang “me time“—waktu untuk diri sendiri, untuk bersantai, dan mengisi ulang energi. Dalam budaya yang mengagungkan produktivitas, “me time” menjadi semacam penawar bagi rasa bersalah yang muncul ketika kita tidak bekerja. Namun, apakah staycation benar-benar memberikan ruang untuk refleksi dan pemulihan, atau justru memperkuat siklus konsumsi?
Banyak paket staycation dirancang untuk memaksimalkan pengalaman konsumtif: spa, perawatan kecantikan, atau kelas-kelas singkat yang menjanjikan transformasi instan. Ini menciptakan paradoks: liburan yang seharusnya menjadi waktu untuk melepaskan diri dari tekanan, justru menjadi ajang untuk mengejar standar baru—standar penampilan, standar kebahagiaan, atau standar gaya hidup. Alih-alih memberikan ketenangan, staycation sering kali menambah beban mental, karena kita merasa harus “memanfaatkan” waktu tersebut dengan cara yang “produktif” atau “berkesan.”
Ruang Publik yang Terabaikan: Mengapa Staycation Bukan Solusi
Jika staycation benar-benar ingin menjadi alternatif yang bermakna, ia harus diiringi dengan upaya untuk memperbaiki ruang publik. Kota-kota di Indonesia, misalnya, masih kekurangan taman yang terawat, ruang terbuka hijau, atau fasilitas rekreasi yang terjangkau. Ketika akses ke ruang publik yang berkualitas terbatas, staycation menjadi pilihan yang terpaksa, bukan pilihan yang bebas. Orang-orang tidak memilih untuk tinggal di rumah atau di hotel karena itu lebih menyenangkan, tetapi karena tidak ada tempat lain yang lebih baik untuk dikunjungi.
Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menyadari bahwa liburan bukanlah sekadar komoditas yang bisa dijual, tetapi hak dasar yang harus diakses oleh semua orang. Investasi dalam ruang publik—seperti taman kota, jalur pejalan kaki, atau pusat kebudayaan—dapat mengurangi ketergantungan pada staycation sebagai satu-satunya opsi. Ketika masyarakat memiliki akses ke lingkungan yang sehat dan menyenangkan, konsep liburan tidak lagi terbatas pada pengalaman konsumtif di balik dinding hotel atau apartemen.
Di akhir hari, staycation adalah cerminan dari bagaimana kita memaknai liburan dan kebahagiaan dalam konteks kehidupan modern. Ia bisa menjadi pelarian yang menyenangkan, tetapi juga bisa menjadi pengingat akan keterbatasan yang kita hadapi. Yang terpenting, kita perlu melihat melampaui narasi yang dibangun oleh industri dan media, dan bertanya: apakah staycation benar-benar memberikan kebebasan, atau justru memperkuat siklus konsumsi dan keterasingan? Jawabannya mungkin terletak pada kemampuan kita untuk menciptakan ruang—baik fisik maupun mental—yang memungkinkan kita untuk benar-benar beristirahat, tanpa harus terjebak dalam ilusi.
